November 13, 2008

 Humor adalah “katup pengaman” bagi tekanan psikologi yang sedang dialami oleh suatu masyarakat. Karena itulah, pada masyarakat yanghidup di bawah pemerintahan rezim totaliter, humor berkembang dengan subur. Kalau masyarakat itu tidak ditolong oleh humor, maka mereka sudah lama meledak atau gila.Humor juga adalah “perekat” masyarakat. Dengan saling menertawakan secara spontan, kita sekaligus memperhalus atau membuang tonjolan yang tajam-tajam dalam perbedaan yang terjadi di antara kita, sehingga kita bisa lebih saling mendekat. Banyak pengamat sosial yang terkagum-kagum melihat “kekenyalan” orang Indonesia. Walau pun kita sudah dihantam oleh berbagai krisis dan bencana, kita tokh tetap saja utuh, waras dan optimis. Prof. Dr. Emil Salim pernah mengatakan, “Dengan krisis seperti yang terjadi di Indonesia ini, Uni Soviet langsung bubar sebagai bangsa dan negara. Tapi kita sungguh luar biasa. Kita masih tetap utuh….”.Saya rasa, salah satu penyebab dari hal-hal yang saya sebutkan di atas, adalah humor. Kita beruntung karena dalam masyarakat kita ada saja orang-orang kreatif yang secara spontan menciptakan humor, menertawakan keadaan, dan membuat kita sedikit rileks dalam mencari jalan keluar dari persoalan yang sedang terjadi.Ketika kita merasa muak – tapi tak berdaya – menghadapi keserakahan rezim Suharto, dan krisis ekonomi datang menerpa, maka bermunculanlah berbagai humor untuk mengobati sakit hati.  Berikut ini  saya beberapa contoh dari sekian banyak humor yang beredar dalam masyarakat kita:Larangan Merger Terhadap Beberapa BankKetika Indonesia dihantam krisis moneter, maka IMF menyarankan agar bank-bank yang banyak itu saling merger saja. Suharto pun menyetujui saran tersebut.Hanya, ia meminta ada 4 bank yang tidak boleh merger,yaitu Bank PaPAN, Bank TATa, Bank BUkopin dan Bank Has-TIN.Kasihken, Tut!Di puncak krisis moneter di awal tahun 1998, Suharto dan Tutut bermobil bersama-sama. Kebetulan mobil mereka terhenti di lampu merah. Seorang pengemis mendekati mobil dan menadahkan tangannya.Suharto yang jatuh iba, berkata kepada puterinya,”Kasih ken, Tut!”Dengan serta-merta Tutut memberikan selembar uang seratus ribuan baru yang bergambar bapaknya itu. Kemudian mobil kembali melaju.Si Pengemis yang terheran-heran dengan sedekah yang begitu besar hanya bisa berteriak, “Busyet, deh. Kentutnya saja segini besar. Gimana beraknya…. ya?!”Tak Punya Kualifikasi Untuk Berganti PekerjaanSebenarnya di tahun 1992, Suharto sudah bosan menjadi Presiden dan ingin berganti pekerjaan. Karena itu pada suatu malam ia mendiskusikan keinginannya itu dengan Ibu Tien.Lalu Ibu Tien memberi nasehat: “Apa? Mau ganti pekerjaan? Coba Bapak pikir baik-baik. Bapak tidak bisa komputer. Bapak tidak bisa bahasa Inggeris. Lalu Bapak mau kerja apa? Sudahlah, Pak, teruskan saja pekerjaan yang lama…..” I’m Late ThreeLee Kwan Yew, Mahathir Muhammad dan Suharto berjalan memasuki ruangan untuk bertemu dengan Presiden Gerald Ford. Mereka sama-sama terlambat dari jadwal pertemuan yang telah disepakati.“Sorry, I’m late,” kata Lee Kwan Yew kepada Gerald Ford.“Sorry, I’m late, too,” kata Mahathir yang berada di belakang Lee Kwan Yew.“Sorry, I’m late three,” kata Suharto yang berada di belakang Mahathir.Kita boleh menangis dan tegang karena Teror Bom Bali. Tapi dalam waktu sekejap saja sudah bermunculan humor di seputar peristiwa tersebut:Ketika dengan cengengesan Amrozi mengatakan “I’m sorry..” maka ucapannya itu  menjadi headline di koran-koran Australia dan membuat masyarakat di sana marah. Lalu dengan enteng kita berkata, “Jangan marah dulu, Bung. Dia tak tahu berbahasa Inggeris.
Maksud dia sih mau memperkenalkan dirinya “Am rozi…”:Ketika pemerintah SBY-JK menaikkan harga BBM sehingga membuat hidup di negeri ini serasa di neraka, maka dengan tertawa kita  berkata: “Susah Bensin Ya Jalan Kaki….”Saya rasa humor-humor tentang perbedaan agama dan etnis juga adalah salah satu faktor yang punya andil besar dalam menjaga persatuan dan membuat kita tetap merasa saudara satu sama lain.Saya selalu senang dengan humor orang Sunda yang kebingungan untuk memberi nama anak keempatnya. Orang Sunda ini sudah punya anak yang bernama Didi Rustandi, Titi Sunarti, Nana Rosana. Lalu ketika secara tak sengaja ia minum es di depan Rumah Sakit Hassan Sadikin, datanglah inspirasi yang brilian di kepalanya. Ia menamai anak keempatnya dengan Ice Juice.Kalau saya bertemu dengan kawan saya orang Aceh maka kami selalu saling melempar humor, berbagi rokok, dan barulah membicarakan “bisnis”. Saya senang dengan cerita orang Aceh yang naik mobil “Ta Kali Satu” atau “TaX1″ alias “taksi”Begitu juga, kalau saya dulu bertemu dengan kawan saya Sahar L. Hassan, orang Flores yang sekarang menjadi Sekjen Partai Bulan Bintang itu, maka kami selalu bertukar humor tentang Pak Uztad, Pak Pendeta, Orang Flores dan Orang Batak. (Oh, ya, Madura juga adalah satu etnis yang paling banyak dijadikan bahan humor). Begitulah, kalau saya mendengar atau menerima kiriman SMS humor dari seseorang, saya selalu bangga dan terkagum-kagum dengan kreativitas orang Indonesia. Baru-baru ini saya menerima kiriman SMS tentang “Pancasila dalam Berbagai Bahasa Etnis”. SMS itu sangat kreatif karena berhasil menggambarkan karakter dari masing-masing etnis.Ambon1. Torang samua tau cuma ada Tuang Allah, yaitu Tete Manis.
2. Orang Ambon sama harus tau adat.
3. Acang deng Obet harus bisa bakubae.
4. Paitua deng maitua harus bae-bae di rumah rakyat
5. Samua harus bisa jaga diri karna Ambon lapar makan orang.Manado1. Cuma boleh ba satu Tuhan.
2. Selalu adil kong ja pake ontak.
3. Torang samua satu, Bangsa Indonesia.
4. Tu rakyat musti selalu bakumpul kong bicara bae-bae supaya selalu ada     kaputusan gagah yang semua trima deng sanang hati.
5. Voor seluruh rakyat Indonesia, nyanda ada tu ja baku kase beda-beda  perlakuan.Minang1. Bintang basagi limo.
2. Rantai pangikek kudo.
3. Pohon baringin gadang tampek kito bacinto.
4. Kapalo banteng angek garang.
5. Padi jo kapeh tampek kito mancari sasuok nasi.Batak1. Unang adong na pajago-jagohon di jolo ni Debata.
2. Maradat tu sude jolma.
3. Punguan ni halak Indonesia.
4. Marbadai… marbadai, dungi mardame.
5. Godang pe habis, saotik pe sukkup.Jawa1. Gusti Alllah ora ono koncone
2., Dadi wong kudu sing adil lan ojo kejem-kejem
3, Indonesia bersatu kabeh
4. Karo tonggo-tonggo nek ono masalah diomongno bareng-bareng opo o
5. Mangan ora mangan sing penting kumpulJawa Kromo1. Gusti ingkang Maha satunggal
2. Tiang ingkang Adil lan beradab
3. Persetunggalan Indonesia
4. Kerakyatan ingkang dipimpin kaliyan hikmat lan kewicaksonoan dateng permusyawaratan kang diwakilkan.
5. Adil kang sosial kangge sakabehe tiang IndonesiaSunda1.  Gusti Allah eta sorangan sareng ageng pisan
2. Ka sorangan teh sikapna kudu sami, ulah ngabeda-beda keun..
3. Indonesia kuduna mah jadi hiji
4. Ra’yat Indonesia sae na pang mutuskeun sagala teh disepakatkeun kedah  bager lan bijaksana
5.Ceunah teh sikap sosialna kudu adil hiji sareng batur.Palembang1.Tuhan ne sute tu’la
2.Jelme harus khapat same rate
3. Jelme Indonesiane bersatu padu
4. Jeleme Indonesiane diketuci ngai hikmah dimane ngedapatkan jawaban dadi gegale masalah
5. Kesameratean hidup ne jelmekangok Indonesia…Kalau Pancasila boleh diterjemahhkan dalam bahasa dan kultur etnis yang beragam itu, maka inilah lagu wajib upacara “Dari Barat Sampai Ke Timur” versi Madura:Dari bara’ sampe’ ka temor

Trek jentrek nuso-nuso
Bung sambungan menjade setong
Panekah indonasuaIndonesya lempung sengko’
Sengko janji bare’ ba’na
Ngangkut-ngangkut lempung sengko’
Lempung-e indonasua

Sepatutnyalah kita bangga dengan keaneka-ragaman kita, dan menghargai daya kenyal serta kreativitas kita. Itulah modal kita untuk tetap waras dalam menjalani kehidupan yang musykil ini. * 

Semiotika dan Komunikasi

 

March 12, 2008

SIMBOL DALAM IBADAH

 Oleh: Rasid Rahman     

A. Simbol dan Bentuk-bentuknya

Simbol berasal dari kata Yunani, sym (bersama) dan balloo (melempar). Symballoo adalah ritus yang dilakukan di antar dua orang saudara (atau dua pihak) dengan melempar salah satu belahan dari lempengan ke tanah.  Biasanya, dua orang saudara yang akan berpisah diberikan masing-masing sebelah dari satu lempengan; sebelah untuk adik dan sebelah lain untuk kakak. Jika beberapa puluh tahun kemudian, kedua kakak-adik tersebut bertemu, mereka akan saling melemparkan belahannya masing-masing ke tanah guna memastikan betul-tidaknya persaudaraan mereka. Ritus tersebut disebut symballoo, atau simbol. Keep reading →

March 12, 2008

“GEREJA BELUM MELIHAT LITURGI SEBAGAI TEOLOGI….”

Oleh: Pdt. Rasid Rachman, M.Th:

Pendeta Rasid Rachman melayani di GKI (Gereja Kristen Indonesia) Perumnas di Tangerang. Beliau adalah dosen luar biasa di STT Jakarta untuk mata kuliah Liturgi dan anggota Komisi Liturgi Sinode GKI. Berikut ini wawancara melalui surat elektronik dengan beliau. (T): Menurut pengamatan Saudara, apa sajakah permasalahan penting dalam liturgi gereja-gereja kita, baik dari segi bentuk, teologi, bahasa, kontekstualisasi maupun proses penciptaan (J) Gereja-gereja di Indonesia umumnya belum melihat liturgi sebagai teologi; gereja-gereja Protestan di Indonesia masih melihat liturgi sebagai hal di luar teologi dan hanya merupakan salah satu kegiatan gereja. Keep reading →

March 4, 2008

CITRA “SANG LAIN” DALAM BAHASA

Oleh : Rainy MP Hutabarat  

Bagaimana “sang lain” (baca juga: sang liyan) dikonstruksikan melalui bahasa?  Untuk  menjawab  hal ini, baiklah  diperjelas lebih  dulu  siapa  yang dimaksudkan  dengan “sang lain” itu.   Dalam dunia iklan, yang  dimaksud dengan “sang lain” tentu saja para pesaing sebuah produk. Dalam agama, “sang lain” adalah  penganut iman yang berbeda. Dalam  seksualitas, “sang lain” biasa  dijuluki  “lawan jenis” (kelamin). Sebagai catatan, istilah  “lawan jenis”  (kelamin) itu sudah merupakan pencitraan  tertentu terhadap  “sang lain”. Kenapa  istilah “lawan”  sering digunakan dan bukan “pasangan jenis” kelamin?  Tampaknya  ada asumsi  tertentu  untuk penggunaan istilah “lawan jenis” dan bukan “pasangan jenis” (kelamin). Pertama, “lawan jenis” secara jelas menunjuk kepada hubungan  heteroseksual. Keep reading →

March 4, 2008

“THE LAST SUPPER” VERSI TEMPO

Oleh : Mula Harahap

Kalau anda dan saya adalah pembaca Tempo yang setia, maka kita akan bisa merasakan bahwa majalah itu juga adalah bagian dari kita: Orang-orang yang memperjuangkan toleransi, sekularisme, pluralis medan demokrasi di Indonesia.
Simaklah tulisan-tulisan Goenawan Mohammad dalam “Catatan Pinggir”. Ia sangat fasih berbicara tentang teks-teks Alkitab, sejarah gereja, dogmatika Kristen dan sebagainya  dalam kaitan dengan toleransi, sekularisme, pluralisme, demokrasi dan seterusnya. Keep reading →