::. Oleh: Rainy MP Hutabarat

Sesuai dengan namanya, kekerasan simbolik jelas bukan kekerasan fisik. Simbol adalah mekanisme representasi, dapat berwujud tekstual, visual, warna atau bunyi. Fenomena simbolik merupakan gejala yang khas manusiawi. Hanya manusia yang mampu menciptakan dan memaknai simbol karena kemampuan akal budinya. Karena itu memahami simbol merupakan kerja akal-budi.

Apakah kekerasan simbolik itu? Kekerasan simbolik adalah mekanisme komunikasi yang ditandai dengan relasi kekuasaan yang timpang dan hegemonik di mana pihak yang satu memandang diri lebih superior entah dari segi moral, ras, etnis, agama ataupun jenis kelamin dan usia. Tiap tindak kekerasan pada dasarnya mengandaikan hubungan dan atau komunikasi yang sewenang-wenang di antara dua pihak. Dalam hal kekerasan simbolik hubungan tersebut berkaitan dengan pencitraan pihak lain yang bias, monopoli makna, dan pemaksaan makna entah secara tekstual, visual, warna Contoh, julukan “kafir” untuk menyebut agama yang berbeda dengan kita. Kita tidak menyebutnya “non Kristen” (baca: bukan Kristen). Menurut Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer oleh Drs. Peter Salim dan Yenny Salim, “kafir” berarti “tidak percaya kepada Allah dan rasul-Nya”. Pengartian ini sendiri merupakan bentuk kekerasan simbolik karena melulu mengacu kepada agama-agama monoteisme (Islam, Kristen, Yahudi) dan melabelkan agama-agama non-monoteis sebagai “kafir”.

Contoh lain adalah julukan “pelacur” yang melulu disasarkan kepada satu pihak saja, yakni perempuan. Padahal dalam tindak pelacuran ada dua pihak yang terlibat, tetapi yang diberi label “pelacur” adalah adalah pihak yang ldipandang ebih rendah sedangkan pihak yang lebih tinggi bebas dari pelabelan. Ini contoh kasus dari bahasa tekstual.

Eksploitasi tubuh perempuan secara visual dalam media massa untuk tujuan-tujuan komersial adalah juga bentuk kekerasan simbolik. Warna kulit hitam yang dilekatkan dengan ciri-ciri negatif, yang dikenakan pada suku atau ras tertentu, termasuk kekerasan simbolik. Contoh-contoh tersebut memperlihatkan adanya bias tertentu dalam pencitraan terhadap “sang lain”.

Pada era Orde Baru kita pernah dibikin sibuk tentang penafsiran tentang Pancasila dalam konteks kehidupan sosial, agama dan negara. Namun rakyat tak bebas menafsirkan Pancasila; hanya pemerintah (baca: rezim Orde Baru) yang menjadi penafsir yang benar dan sah. Ini pun kekerasan simbolik dalam bentuk pemaksaan makna.

Sebagai mekanisme komunikasi, kekerasan simbolik pertama-tama merupakan praktik sosial menyangkut bagaimana pihak yang satu mendefinisikan atau merepresentasikan diri dan “sang lain” serta bagaimana bahasa dimaknakan secara paksa oleh sat pihak kepada pihak yang lain.


Tidak Bebas
Dalam sebuah sesi tentang kekerasan simbolik saya pernah mengatakan, “Kitab Suci tidak bebas dari kekerasan simbolik.” Pernyataan ini segera menuai kritik khususnya di kalangan laki-laki pendeta dan penatua. Bagi mereka, pernyataan itu berarti menghapus kesucian Alkitab. Bila Alkitab mengandung kekerasan simbolik, maka ia tak lagi “suci”. Untuk dapat melihat kekerasan simbolik dalam Alkitab perlu memahami Alkitab sebagai “kitab suci” secara baru. Pertanyaannya adalah: Di manakah letak kesucian Alkitab sebagai kitab suci yang tidak terlepas dari keterbatasan penulisnya yang hidup dalam kurun waktu serta konteks budaya, politik dan agama tertentu? Pertanyaan ini harus dijawab agar tampak dalam arti bagaimanakah Alkitab menjadi kitab suci orang Kristen.

Menolak kenyataan bahwa Kitab Suci tidak bebas dari kekerasan simbolik pada dasarnya berarti menolak adanya bias tertentu khususnya bias jender di dalamnya. Mengapa? Karena sebagian besar kekerasan simbolik dalam Alkitab pertama-tama menyangkut pencitraan perempuan melalui pilihan kata maupun konstruksi kalimat atau cerita. Istilah “gundik” dan “perempuan sundal”, yang digunakan dalam beberapa kitab dalam Perjanjian Lama adalah contoh kekerasan simbolik terhadap perempuan.
About these ads