Posted by yakomapgi under
Esai Leave a Comment
::. Rasid Rahman
Simbol dan Bentuk-bentuknya
Simbol berasal dari kata Yunani, sym (bersama) dan balloo (melempar). Symballoo adalah ritus yang dilakukan di antar dua orang saudara (atau dua pihak) dengan melempar salah satu belahan dari lempengan ke tanah. Biasanya, (more…)
::. Pdt. Rasid Rachman, M.Th.
Pendeta Rasid Rachman melayani di GKI (Gereja Kristen Indonesia) Perumnas di Tangerang. Beliau adalah dosen luar biasa di STT Jakarta untuk mata kuliah Liturgi dan anggota Komisi Liturgi Sinode GKI. Berikut ini wawancara melalui surat elektronik dengan beliau. (T): Menurut pengamatan Saudara, apa sajakah permasalahan penting dalam liturgi gereja-gereja kita, baik dari segi bentuk, teologi, bahasa, kontekstualisasi maupun proses penciptaan (J) Gereja-gereja di Indonesia umumnya belum melihat liturgi sebagai teologi; gereja-gereja Protestan di Indonesia masih melihat liturgi sebagai hal di luar teologi dan hanya merupakan salah satu kegiatan gereja. Persepsi ini memang kekeliruan yang kita buat sendiri yang memberikan kegiatan liturgi kepada pemusik, seniman, dan arsitek. tanpa bimbingan teologis dari pihak gereja. Peran Pendeta paling-paling hanya “menjaga dogma”, dalam arti tidak membuat perubahan apa pun dalam liturgi kecuali telah diputuskan oleh Sinode. Sebagai teologi, liturgi saling berkaitan dengan Alkitab, sejarah dan tradisi gereja, budaya masyarakat, dan geliat teologi kontekstual. Jelas, Alkitab tidak menetapkan satu pun bentuk liturgi. Namun sejarah dan tradisi gereja mencipta bentuk-bentuk dan ritus-ritus. Budaya masyarakat memperkaya ritus dalam khazanah liturgi gereja secara ekumenis. Pada gilirannya, gereja “membaptis” budaya masyarakat. Itu yang terjadi dengan Natal yang semula adalah festival musim dingin dan Paska yang berasal dari festival musik semi. Hal ini sejajar dengan upaya teologi pembebasan di Amerika Latin dan teologi Minjung di Korea yang mengkristenkan konteks.
(more…)
Posted by yakomapgi under
Esai Leave a Comment
::. Oleh : Rainy MP Hutabarat
Bagaimana “sang lain” (baca juga: sang liyan) dikonstruksikan melalui bahasa? Untuk menjawab hal ini, baiklah diperjelas lebih dulu siapa yang dimaksudkan dengan “sang lain” itu. Dalam dunia iklan, yang dimaksud dengan “sang lain” tentu saja para pesaing sebuah produk. Dalam agama, “sang lain” adalah penganut iman yang berbeda. Dalam seksualitas, “sang lain” biasa dijuluki “lawan jenis” (kelamin). Sebagai catatan, istilah “lawan jenis” (kelamin) itu sudah merupakan pencitraan tertentu terhadap “sang lain”. Kenapa istilah “lawan” sering digunakan dan bukan “pasangan jenis” kelamin? Tampaknya ada asumsi tertentu untuk penggunaan istilah “lawan jenis” dan bukan “pasangan jenis” (kelamin). Pertama, “lawan jenis” secara jelas menunjuk kepada hubungan heteroseksual. Kedua “lawan jenis” juga mengasumsikan suatu pandangan esensialis tentang apa yang menjadi peran, posisi atau karakter dari jenis kelamin yang berbeda. Namanya juga “lawan”, maka segala sesuatu diasumsikan “berlawanan” alias “berbeda”.Sedangkan “pasangan jenis” cenderung mengasumsikan hubungan majemuk. Perempuan bisa dipasangkan dengan perempuan, dan laki-laki bisa dipasangkan dengan laki-laki. Atau sebaliknya, perempuan bisa dipasangkan dengan laki-laki, dan laki-laki bisa dipasangkan dengan perempuan. Jadi, istilah “pasangan jenis” bisa menunjuk kepada hubungan heteroseksual maupun homoseksual. Maaf, tulisan ini tidak bermaksud membahas persoalan heteroseksual dan homoseksual, apalagi dari perspektif moral. (more…)
Posted by yakomapgi under
Esai Leave a Comment
::. Oleh: Mula Harahap
Kalau anda dan saya adalah pembaca Tempo yang setia, maka kita akan bisa merasakan bahwa majalah itu juga adalah bagian dari kita: Orang-orang yang memperjuangkan toleransi, sekularisme, pluralis medan demokrasi di Indonesia. Simaklah tulisan-tulisan Goenawan Mohammad dalam “Catatan Pinggir”. Ia sangat fasih berbicara tentang teks-teks Alkitab, sejarah gereja, dogmatika Kristen dan sebagainya dalam kaitan dengan toleransi, sekularisme, pluralisme, demokrasi dan seterusnya. Sama fasihnya seperti ia berbicara tentang aspek-aspek agama yang dianutnya dalam kaitan dengan nilai-nilai tersebut. (more…)
Posted by yakomapgi under
Esai Leave a Comment
::. Oleh: Rainy MP Hutabarat
Sampai saat ini, kebanyakan orang beranggapan bahwa tingginya penularan penyakit HIV/AIDS tak ada kaitannya dengan masalah ketimpangan jender. Anggapan bahwa HIV/AIDS sebagai penyakit “kutukan Tuhan” hingga kini juga masih diyakini banyak orang karena dihubungkan dengan “seks bebas”, “homoseksual” dan narkoba. Padahal, berkaitan dengan hubungan seksual, tak ada kaitan penularan HIV/AIDS dengan sifat hubungan seks. Berbagai data mencatat, bahwa penularan HIV/AIDS juga banyak terjadi pada pasangan suami-isteri dan hubungan heteroseksual.
(more…)