::. Augusto Boal
Sutradara teater asal Brasil, Augusto Boal, mengembangkan Teater Orang Tertindas (TOT) pada tahun 1950-an dan 1960-an. Dalam upaya mentransformasikan teater tradisional yang monolog menjadi teater yang partisipatif, yang berdialog antara panggung dengan penonton, Boal bereksperimen dengan berbagai bentuk teater interaktif. Eksplorasinya didasarkan asumsi bahwa dialog adalah hal yang umum, dinamika yang sehat antara sesama manusia; bahwa semua orang ingin dan mampu berdialog, dan ketika dialog berubah menjadi monolog, maka muncul penindasan. Karena itu, teater menjadi alat yang luar biasa untuk mentransformasikan monolog menjadi dialog. “Sementara orang-orang tertentu berteater,” kata Boal, “kita semua adalah teater.”
Boal mengembangkan berbagai bentuk lokakarya teater dan pementasan. Tujuan berteater, menurut Boal, adalah memenuhi kebutuhan berinteraksi bagi rakyat, ruang dialog, memampukan berpikir kritis, bermain peran dan menciptakan kegembiraan. Lokakarya-lokakarya merupakan landasan aksi, bukan saja pada pementasan tetapi juga bagi tindakan dalam kehidupan nyata. Lokakarya khas TOT meliputi tiga jenis aktivitas. Pertama adalah informasi tentang latar-belakang TOT dan berbagai latihan yang disediakan fasilitator lokakarya (atau menurut istilah Boal: “difficultator”). Informasi ini mengawali lokakarya, tetapi juga tercakup dalam seluruh permainan dan latihan. Lebih lanjut, kelompok secara periodik berkumpul membahas respons-respons atas permainan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan terhadap berbagai proses.Aktivitas kedua adalah permainan-permainan. Ini merupakan interaksi fisik yang tetap dan intensif, yang dirancang untuk menantang kita mendengarkan apa yang kita dengar, merasakan apa yang kita sentuh, dan melihat apa yang kita lihat. “Gudang Senjata” TOT sangat luas, meliputi 200 permainan dan latihan yang terdaftar dalam “Permainan Bagi Aktor dan Non Aktor” (Games for Actors and Non-Actors) yang disusun oleh Boal. Tujuan utama permainan adalah meningkatkan kepekaaan kita, demekanisasi (demechanize) tubuh, menanggalkan kebiasaan perilaku tertentu, sebagai pendahuluan (prelude) untuk bergerak melampaui kebiasaan berpikir dan berinteraksi. Juga meningkatkan keterlibatan dengan sesama peserta, mengembangkan relasi dan rasa percaya.
Aktivitas ketiga didesain untuk wilayah khusus praktik TOT yang melibatkan latihan-latihan terstruktur. Kendati sesekali ada wilayah abu-abu, seseorang bisa menyebut sebuah aktivitas sebagai permainan atau latihan; latihan-latihan dirumuskan sedemikian untuk menginfus struktur yang ada dengan isi yang sesungguhnya. Aktivitas-aktivitas ini didesain untuk mengangkat wilayah khusus praktik TOT seperti Teater Citra (baca juga: Teater Patung/Image Theatre), Teater Forum (Forum Theatre), Pelangi Keinginan (Rainbow of Desire), dan seterusnya. Kita diajak, bukan hanya membayangkan kemungkinan-kemungkinan dan solusi-solusi baru, melainkan secara aktif berpartisipasi. Pemecahan masalah dalam kelompok, interaksi imajinatif, interaksi fisik, rasa percaya dan kegembiraan berpadu untuk menciptakan dinamika-dinamika antar pribadi yang bersemangat. Sebagai hasilnya, kita belajar bahwa kita, jika bukan menjadi sumber dari kesalahan-kesalahan kita, sedikitnya menjadi pelanggeng. Dan yang terpenting, kita adalah sumber dari pembebasan-pembebasan kita.
Sebagai penjelasan, Teater Citra memanfaatkan tubuh manusia sebagai alat untuk mengungkapkan perasaan-perasaan, gagasan-gagasan, dan hubungan-hubungan. Dengan memahat sesama peserta atau menggunakan tubuh sendiri untuk memeragakan suatu posisi tubuh (membuat patung dengan peragaan tubuh, Penyunting), peserta bisa mencipta apa saja, dimulai dengan patung citra satu orang hingga patung-patung kelompok besar yang mengungkapkan refleksi si pemahat terhadap suatu situasi atau penindasan.
Teater Forum melatih improvisasi-improvisasi untuk menciptakan suatu adegan tentang penindasan khusus. Menggunakan istilah Yunani “protagonis” dan “antagonis”, Teater Forum memeragakan seseorang (protagonis) yang mencoba menghadapi penindasan dan gagal, karena adanya penolakan dari satu atau lebih antagonis.
Adegan-adegan dapat berupa permainan satu lakon atau kerap berupa adegan-adegan singkat. Sebuah pementasan penuh dimainkan di hadapan penonton. Joker (difficultator) lalu mengatakan kepada penonton bahwa adegan-adegan akan dimainkan kembali, dan jika Anda ingin melakukan hal berbeda dari yang dilakukan oleh tokoh protagonis (bukan antagonis), dipersilakan untuk berdiri dan berseru, “Stop!” Tokoh protagonis akan duduk dan penonton diundang ke pentas untuk memperlihatkan solusi mereka atas suatu masalah. Setelah intervensi diperagakan, para penonton akan bertepuk tangan, dan joker mengundang penonton untuk membahas solusi yang diusulkan, dan bahkan mengajukan lebih banyak solusi.
Pelangi Keinginan adalah upaya luar biasa untuk menerapkan pendekatan-pendekatan TOT, khususnya Teater Citra, sebagai sebuah cara yang menawarkan sebuah teknik psikoterapi sistematis. Kendati sangat luas dalam hal teori dan praktik sehingga tak memadai jika diringkaskan di sini, cukuplah dikatakan bahwa Pelangi Keinginan berupaya memeragakan perasaan-perasaan dan hubungan-hubungan dalam batin melalui suatu proses kolaboratif.
Misalnya, saya mendemonstrasikan sebuah kesulitan atau penindasan yang saya hadapi dengan seorang rekan kerja. Saya pilih seseorang dari kelompok untuk memerankan rekan kerja tersebut, lalu mengatakan kepada mereka apa yang harus dilakukan dan menyampaikannya dalam pementasan, dan kemudian memerankan sebuah momen kunci saat penindasan sedang dimainkan. Mereka yang berada dalam workshop (atau bahkan pementasan), yang menonton pertunjukan saya, kemudian maju ke depan untuk mendemonstrasikan penggalan-penggalan citra fisik (patung) dari perilaku saya – kelemahan-kelemahan dan kekuatan-kekuatan saya. Citra-citra atau patung-patung tersebut, yang oleh penonton disetujui sebagai representasi yang cocok dari citra saya dalam pementasan, tetap dipertunjukkan. Citra-citra lain kemudian bertambah, yang mengungkapkan apa yang dilihat oleh penonton tentang diri rekan kerja (antagonis).
Wawancara berikut ini dilakukan oleh Douglas L. Paterson dan Mark Weinberg, diterjemahkan dan diolah oleh Rainy MP Hutabarat dari beberapa situs internet.
Tanya: Pendekatan Anda terhadap teater, tampaknya merupakan kritik tajam atas pendekatan Barat terhadap drama. Anda menulis bahwa teater Barat membagi orang ke dalam kelompok pemeran atau pelaku dan penonton, dan ini menjadi model struktur yang memedomani bahwa sebagian orang punya kuasa untuk berperan atau berlakon, dan sebagian terbesar cuma jadi penonton lakon sejarah. Dan melalui proses katarsis, penonton digiring untuk peduli terhadap kesejahteraan dan stabilitas negara, kemudian melalui semacam “pencucian” dibujuk agar tidak melakukan sesuatu; menerima sesuatu sebagaimana adanya dan tidak didorong melakukan tindakan. Kita telah termakan intrik tentang bagaimana sedikitnya di Amerika Serikat, rakyat dalam lingkaran-lingkaran mapan yang kritis tak menonton dan mempersilakan jalan saja dulu. Menurut Anda, banyakkah kritik; kritik yang sungguh-sungguh, terhadap TOT dan pekerjaan Anda di berbagai tempat?
Jawab: Kita lihat, ini kritik tanpa suara. TOT diabaikan oleh pers. Pers telah mengkritik secara tanpa suara. Mereka katakan, bukan teater namanya jika penonton juga main teater. Sebab teater tak berpentas untuk mereka; untuk para pengritik itu. Tak pernah ada catatan dari pers bahwa kita mementaskan festival, tak satu kritik pun muncul. Ketika tahu bahwa ini TOT, mereka jarang datang. Jadi ada kritik bisu, dengan tidak mengakui eksistensi sesuatu. Mereka menerbitkan buku tentang TOT di seluruh dunia. Tapi semua buku itu ditulis oleh para praktisi, para pekerja yang menceritakan pengalaman mereka. Saya lihat mengagumkan, tapi tak satu buku pun mencoba jelaskan apa yang terjadi dengan TOT di dunia.
Tanya: Tampaknya hal terpenting yang perlu dilakukan untuk memperluas praktik adalah suatu latihan proses yang tepat dan kritis. Sebagaimana Anda katakan, itu diperlukan sebagai bagian dari dialog. Karena itu, sebagai langkah awal, kami punya pertanyaan- pertanyaan. Pertanyaan pertama adalah tentang menciptakan stereotipe di panggung. Mungkin dalam struktur “Teater Forum”, “Cop-in-the-Head” dan juga “Pelangi Keinginan”, mudah memanfaatkan stereotipe. Dalam TOT kita diajak untuk merepresentasikan antagonis kita, penindas kita, atau mereka yang bergabung dengan kita secara either/or (ini maupun itu) — anak-anak muda yang baik dan jahat. Adakah dalam diskusi cara untuk menegosiasikan stereotipe-stereotipe dengan realitas yang lebih kompleks? Bagaimanakah kita bisa melepaskan pengunaan stereotipe-stereotipe sebagai cara berpikir tentang masalah-masalah?
Jawab: Saya kira dalam Teater Forum atau dalam teknik-teknik “Pelangi Keinginan” kita bisa mulai dengan stereotipe. Tetapi diskusi teater bergulir sejauh kemampuan para peserta. Tak ada satu resep pun untuk memampukan rakyat melihat lebih dalam dari stereotipe. Tetapi ada metode di mana kita mulai dengan stereotipe lalu bergerak lebih dalam. Penyajian sebuah model, tak bisa tidak, merupakan stereotipe. Orang bermain domino atau kartu atau minum bir, dan seseorang datang dan bertanya, “Anda harus menggerakkan diri, keluar dari sini dan mari kita buat sebuah manifesto dan berpartisipasi.” Secara khusus saya terkesan dengan seorang anak lelaki yang berkata, “Kenapa harus saya? Semakin banyak saya membaca, semakin saya tahu apa-apa yang terjadi di negeri ini, dan semakin saya tak tahu solusinya.” Kemudian saya merasa bahwa sebagian orang tak aktif; mereka tak aktif karena mereka juga begitu. Ini karena Anda punya terlalu banyak informasi – melalui media, pers, TV, teman-teman – dan sungguh mengerikan apa yang terjadi. Tetapi begitulah yang terjadi. Ada semacam fatalisme yang membuat orang-orang menerimanya; mereka yang tak fatalis menjadi fatalis. Saya sangat terkesan. Dan ini bukan stereotipe. Stereotipe adalah memperlihatkan seseorang (berkata), ”Oh, tidak. Aku tak peduli.” Orang yang mengatakan, “Aku tak peduli” dalam kenyataannya peduli, namun tak berani, kecut. Jadi saya percaya bahwa stereotipe merupakan bagian dari sebuah gambaran, namun tergantung pada orang-orang yang berkumpul membahas pokok masalah, kita bisa bergerak melampaui stereotipe…… Kita mengembangkan teknik-teknik, tetapi hal terpenting adalah, siapa yang akan menggunakan teknik-teknik tersebut dan seberapa kuat keinginan rakyat untuk menemukan? Jika Anda berkeinginan kuat, jika Anda tidak menyerah dan Anda tetap yakin, maka segala hal bisa diubah.
Tanya: Dengan kata lain, para penonton itu belajar tentang situasi mulai dari stereotipe. Mereka harus sungguh-sungguh menyingkapkan apa yang terjadi; apa yang telah mereka lakukan mungkin merupakan suatu stereotipe. Tergantung pada mereka untuk menyingkapkan dan bukan pada Anda – sebagai joker atau akademisi atau kritikus yang menunjukkannya sejak awal. Itu perlu ditemukan oleh kelompok.
Jawab: Tentang proses teater. Dan kadang-kadang apa yang terjadi, terjadi, karena ada sebuah model stereotipe atau sebuah cerita yang distereotipekan, tetapi kadang-kadang sebuah karakter yang distereotipekan. Saya selalu teringat ketika mereka bicara tentang stereotipe-stereotipe, sebuah temuan dalam pekerjaan yang saya lakukan di Chile. Ini tentang seseorang yang sedang berjuang menentang Pinochet, yang lebih dikenal sebagai hero di kalangan buruh dalam menentang Pinochet, dan telah disiksa di penjara. Tetapi tatkala dia mementaskan tentang keluarganya, dia dapati bahwa perilakunya terhadap isteri dan anak-anaknya seperti Pinochet – terutama terhadap putrid-putrinya. Dia dapati perilakunya yang stereotipe sebagai seorang “ayah”. Dia bukan seorang ayah yang bertempur melawan Pinochet, seorang lelaki yang punya isteri serta putra-putri. Dia tak berperilaku seperti dirinya sendiri. Tiap ada yang datang dan ingin kencan dengan salah seorang putra-putrinya, reaksinya bukan seperti seseorang yang sedang berjuang melawan tirani. Perilakunya justru perilaku tirani. “Kau harus pulang pukul segini, kau harus melakukan ini, kau harus melakukan itu.” Di rumahnya dia mereproduksi perilaku stereotipe para ayah yang memproteksi anak-anak perempuannya, dan memaksa isteri-isteri mereka untuk melakukan tugas ini dan itu.
Tanya: Jika saya melakonkan suatu citra, atau saya terlibat dalam Teater Forum, seseorang bisa saja berkata bahwa mudah bagi saya untuk memisahkan pengalaman personal dari konteks sosialnya. Saya membuat citra saya yang tertindas semata-mata dari sudut pandang saya. Dan kritik akan dilontarkan, kemudian saya bisa mempercayai bahwa citra saya ada benarnya dalam arti luas karena menurut saya benar. Apakah penonton akan menghubungkan kembali yang individual dengan yang sosial?
Jawab: Tergantung apa strukturnya. Misalnya, Anda punya struktur buruh-buruh yang hendak bicara dengan pimpinan mereka, menuntut kenaikan gaji serta kondisi kerja yang lebih baik. Buruh-buruh lain di pabrik yang sama, di ruang yang sama, akan mengidentifikasikan diri dengan situasi tersebut dan tanpa ragu melihat bahwa mereka ditindas. Dan kemudian mereka menentang pimpinan mereka sebab pimpinan menginginkan keuntungan yang lebih besar dengan kondisi kerja yang tak layak. Dalam kasus ini jelas bagi seseorang apa yang harus diperjuangkan. Ini sangat mudah.
Tetapi komplikasi muncul ketika relasi antara yang satu dengan yang lain tak cocok dengan kategori-kategori yang mapan. Misalnya, dalam semua hubungan – perempuan dan laki-laki, hubungan-hubungan emosional – kadang-kadang keduanya merasa ditindas oleh yang lain. Kemudian saya menyajikan sebuah lakon di mana saya merasa ditindas oleh perempuan, dan dengan memainkan peran itu saya bisa menemukan bahwa mungkin saya lebih sebagai seorang penindas ketimbang orang yang tertindas. Pada kesempatan lain, kami menggelar pementasan citra dan salah seorang anak laki-laki akhirnya merasa tergerak. Dia berkata, “Lihat, saya telah tunjukkan bagaimana saya ditindas dan saya terkejut bahwa tiap orang mengambil posisi orang lain. Dan akhirnya, saya paham bahwa mungkin saya seorang penindas, dan karena itulah orang lain menindas saya.” Kadang-kadang secara sosial situasinya tak terlalu jelas, tak terlalu konkrit namun sangat stereotipe dan ritual. Dan ini juga pertanyaan tentang perasaan atau emosi – sulit untuk mengatakan siapa menindas siapa, sebab orang lain juga bisa tertindas. Itu sebabnya teknik-teknik seperti itu dikembangkan karena kita tidak sungguh-sungguh mencoba untuk menemukan siapa penindas dan siapa yang tertindas, tetapi Anda mencoba memahami situasi satu orang dengan yang lainnya.
Tanya: Mungkinkah bahwa teknik-teknik TOT membatasi kemungkinan-kemungkinan, sehingga representasi-representasi teatrikal tentang kenyataan dan hasil-hasil ideal sama untuk semua situasi? Teknik-teknik citra atau pelangi bisa mengantar kita kepada rentang pendek kemungkinan-kemungkinan yang kemudian dikonstruksikan oleh teknik-teknik itu sendiri. Kita akhiri dengan menguniversalkan yang partikular jika itu merupakan teknik yang dibuat dari hasil dan proses yang bisa diprediksikan.
Jawab: Saya yakin, jika Anda punya forum, misalnya, banyak alternatif yang bisa diprediksikan, dan itu adalah stereotipe-stereotipe. Penggantian juga distereotipekan. Misalnya, gagasan bahwa Anda pulang sendirian ke sana atau Anda pergi dengan orang lain. Bisa diprediksikan bahwa setelah satu momen atau momen yang lain, beberapa penonton akan berkata, “Ohh, saya tak sendirian ke sana. Saya pergi bersama orang lain.” Itu bisa diprediksikan dan sering terjadi. Tetapi fakta bahwa ini bisa diprediksikan tak berarti bahwa ini tak benar, bahwa ini tak mengungkapkan sebagian besar waktu yang kita gunakan untuk memecahkan masalah kita. Dan kemudian, jika ini bisa diprediksikan, masih baik jika seseorang berkata bahwa kita bisa pergi bersama-sama, dan bukan pergi sendirian.
Pada saat bersamaan, saya yakin bahwa efek terpenting dari Teater Forum bukanlah solusi-solusi yang pada akhirnya ditemukan, melainkan proses berpikir. Karena saya yakin, bahwa dalam teater normal, terjadi kelumpuhan: Penonton lumpuh kekuatannya untuk bertindak dan dia menderita oleh rasa empati terhadap tokoh, dan kadang-kadang, dia hanya menjawab. Apa yang penting bagi saya, sudah pasti bukan solusi yang kita temukan, melainkan proses mengkritisi, mengobservasi dan mencoba menemukan solusi-solusi. Bahkan jika kita tak menemukan solusi dalam Teater Forum, saya katakan, “Ok, tak masalah. Kita tak menemukan solusi, melainkan mencari solusi.” Saya kira, bila akhirnya Anda menemukan solusi yang bisa diprediksikan, ini tak berarti lebih baik dibandingkan bila kita tak menemukannya. Yang penting Anda telah memikirkannya. Perubahan penting pada penonton adalah, bahwa mereka bukan sebagai konsumen semata, melainkan seseorang yang mempertanyakan.
Saya sangat suka permainan yang saya gunakan belakangan ini tentang seorang pemimpin – yang ditugaskan – yang harus Anda temukan, dan dalam kenyataan tak ada yang namanya pemimpin. Kemudian rakyat mendapati bahwa saya memberikan instruksi yang salah, dan saya menipu meereka. Saya sangat menyukainya karena saya ingin mereka percaya pada saya, namun bukan rasa percaya yang buta. Pesan permainan ini adalah, “Apa pun yang saya katakan, jangan telan mentah-mentah. Analisa, dan pikirkan apakah yang saya katakan baik atau tidak, apakah Anda setuju atau tidak.” Dan saya kira begitulah harusnya TOT keseluruhannya. Tetaplah berpikir, “Apakah benar? Apakah Anda setuju?” Ini menggugah pemikiran-pemikiran dan tindakan-tindakan serta penemuan-penemuan. Apa pun yang kita temukan, pikiran apa pun yang kita miliki, tindakan apa pun yang kita lakukan, yang terpenting adalah menjadikannya sebagai titik tolak – mendinamisasi dan tidak menjadi seperti tokoh kemarin yang mengatakan, “Semakin saya baca tentang itu, semakin saya lihat bahwa saya tak berdaya. Saya tak ingin melakukan apa pun.” Kenapa? Mari kita coba temukan. Kita tak membawa pesan. Kita membawa metode, dan bukan pesan.
Tanya: Apa respons Anda terhadap teater di Broadway dan universitas dan teater-teater regional di Amerika Serikat dan Rio Janeiro– pementasan yang standar? Anda tak bertentangan dengan mereka, namun Anda merasa bahwa kita membutuhkan gabungan area teater yakni interaksi berbasis komunitas?
Jawab: Itulah yang saya pikirkan. Misalnya, saya pikir, di Prancis orang-orang terbiasa memiliki guru-guru teater di sekolah-sekolah namun yang diajarkan cuma Moliere, Racine, Marivaux, Corneille. Di sekolah mereka mereproduksi pementasan-pementasan yang sama yang mereka tonton di luar sekolah. Mestinya bukan begitu. Sekolah harus belajar tentang bahasa teater, dan bukan produksi final, melainkan bahasanya. TOT adalah bahasa teater dan bukan produk final. Misalnya, Schauspielhaus di Jerman, kadang-kadang mereka memproduksi teater seperti memproduksi saus. Tiap tahun mereka harus mementaskan drama Jerman klasik, dan banyak lagi yang saya tak tahu. Tiap tahun sama saja. Pengulangan semua. Jika mereka juga bisa punya tempat untuk menggelar Forum, saya yakin itu akan merevitalisasi teater yang mereka gelar. Saya yakin jika kita ingin mementaskan Hamlet dengan teknik-teknik Rainbow of Desire, itu juga akan merevitalisasi akting mereka saat mementaskan Shakespeare dengan cara normal. Ini membuat akting menjadi lebih vital. Karena itu, menurut saya, apa yang tak mesti dilakukan adalah meminggirkan belajar bahasa teater dan melompat ke produksi final. Itu yang berlaku sekarang.
Saya diberi tahu bahwa Omaha adalah salah satu kota paling keras di Nebraska. Dialog antara rakyat di sini hanya menolong untuk memahami mengapa kota ini begitu keras dan kenapa kekerasan tak bisa dihentikan. Anda tak bisa menghentikan kekerasan, selain menguranginya. Saya yakin bahwa TOT penting, bukan karena memperlihatkan metode lain dari mementaskan teater, melainkan menggunakan bentuk lain dari teater untuk lebih meringankan beban hidup. Misalnya, seperti di Brasil saat ini, hidup kadang tak tertanggungkan…
Tanya: Kita telah bicara tentang harapan di tengah-tengah kekerasan. Di Brasil, di Amerika Serikat, di seluruh dunia, pasar bebas menjadi satu-satunya tatanan moral. Di tengah-tengah semua ini adalah teater, yang menyiratkan sebentuk masa depan, sebentuk harapan. Apakah Anda punya harapan?
Jawab: Ya, saya kira ada beberapa yang…… harus selalu dihubungkan, sebab jika tidak, hanya akan menjadi kata-kata relijius dan kata-kata yang tak bisa bekerja secara sosial. Di antaranya adalah pengharapan. Pengharapan apa yang harus kita miliki jika bukan keinginan kita? Dan keinginan apa yang kita miliki jika bukan untuk mengubah masyarakat menjadi lebih baik bagi kita semua? Kadang-kadang saya dengar rakyat bicara tentang pengharapan. Saya melihat di Brasil, rakyat yang putus asa mengatakan, “Anda harus berharap.” Dan saya katakan, “Mengapa mereka harus berharap jika mereka tahu bahwa jika mereka tak berjuang, jika mereka tak punya keinginan untuk berjuang, apa pun takkan terjadi? Pengharapan demikian, pengharapan buta bahwa suatu waktu sesuatu akan terjadi. Mempunyai pengharapan buta bahwa suatu waktu Allah akan menolongmu. Pengharapan yang buta saya kira lebih buruk dibanding tanpa pengharapan.Tetapi saya percaya akan pengharapan jika Anda punya keinginan yang kuat. Jika saya percaya bahwa rakyat di sini punya keinginan kuat untuk mengakhiri atau mengurangi kekerasan rasial yang berlangsung, maka rakyat berhak punya pengharapan. Saya kira punya pengharapan adalah sebuah hak yang kita miliki jika kita punya keinginan. Jika tak punya keinginan, kita tak punya hak untuk berharap.Dan pengharapan apa yang dapat Anda miliki? Keinginan menjadi lebih kaya, ini sebuah keinginan yang kekanak-kanakan. Bukan itu yang harus Anda miliki; itu bukan keinginan yang sah. Melainkan keinginan bahwa tak seorang pun di Omaha harus tewas karena kedinginan, atau kelaparan, atau akibat perkelahiran antar gang. Ini keinginan yang sah, yang perlu kita kembangkan dan karenanya kita berhak punya pengharapan. Pengharapan adalah sebuah hak, tetapi tak berarti Anda boleh memilikinya dengan sagala cara. Jika keinginanmu aktif, maka Anda berhak untuk berharap. Jika tetap diam di rumah dan berkata, “Saya ingin ini terjadi” – berharap Anda menang lotere – itu tak sah. Berharap bahwa pemerintah akan melakukan semua hal yang baik bagi rakyatnya, juga tak sah.**