Esai


::. Marshall Rosenberg

Kita hidup dalam struktur yang menuntut untuk mendidik masyarakat agar percaya bahwa otoritas tahu persis apa yang baik untuk kita lakukan, dan tugas kita adalah melakukan apa yang telah dikatakan oleh otoritas. Jika kita melakukan apa yang dikatakan oleh otoritas, kita dianggap layak mendapat hadiah. (more…)

::. Mula Harahap

Humor adalah “katup pengaman” bagi tekanan psikologi yang sedang dialami oleh suatu masyarakat. Karena itulah, pada masyarakat yanghidup di bawah pemerintahan rezim totaliter, humor berkembang dengan subur. (more…)

 ::. Rasid Rahman

Simbol dan Bentuk-bentuknya

Simbol berasal dari kata Yunani, sym (bersama) dan balloo (melempar). Symballoo adalah ritus yang dilakukan di antar dua orang saudara (atau dua pihak) dengan melempar salah satu belahan dari lempengan ke tanah. Biasanya, (more…)

::. Oleh : Rainy MP Hutabarat 

Bagaimana “sang lain” (baca juga: sang liyan) dikonstruksikan melalui bahasa?  Untuk  menjawab  hal ini, baiklah  diperjelas lebih  dulu  siapa  yang dimaksudkan  dengan “sang lain” itu.  Dalam dunia iklan, yang  dimaksud dengan “sang lain” tentu saja para pesaing sebuah produk. Dalam agama, “sang lain” adalah  penganut iman yang berbeda. Dalam  seksualitas, “sang lain” biasa  dijuluki  “lawan jenis” (kelamin). Sebagai catatan, istilah  “lawan jenis”  (kelamin) itu sudah merupakan pencitraan  tertentu terhadap  “sang lain”. Kenapa  istilah “lawan”  sering digunakan dan bukan “pasangan jenis” kelamin?  Tampaknya  ada asumsi  tertentu  untuk penggunaan istilah “lawan jenis” dan bukan “pasangan jenis” (kelamin). Pertama, “lawan jenis” secara jelas menunjuk kepada hubungan  heteroseksual.  Kedua “lawan jenis” juga mengasumsikan  suatu pandangan esensialis tentang apa yang menjadi peran,  posisi atau karakter dari jenis kelamin yang berbeda. Namanya juga “lawan”, maka segala sesuatu diasumsikan “berlawanan” alias “berbeda”.Sedangkan “pasangan jenis” cenderung mengasumsikan hubungan majemuk.  Perempuan bisa dipasangkan dengan perempuan, dan laki-laki bisa dipasangkan dengan laki-laki. Atau sebaliknya, perempuan bisa dipasangkan dengan laki-laki, dan laki-laki bisa dipasangkan dengan perempuan. Jadi, istilah “pasangan jenis” bisa menunjuk kepada hubungan heteroseksual maupun homoseksual. Maaf, tulisan ini tidak bermaksud  membahas  persoalan heteroseksual dan homoseksual, apalagi dari perspektif moral.   (more…)

 

::. Oleh: Mula Harahap

 

Kalau anda dan saya adalah pembaca Tempo yang setia, maka kita akan bisa merasakan bahwa majalah itu juga adalah bagian dari kita: Orang-orang yang memperjuangkan toleransi, sekularisme, pluralis medan demokrasi di Indonesia. Simaklah tulisan-tulisan Goenawan Mohammad dalam “Catatan Pinggir”. Ia sangat fasih berbicara tentang teks-teks Alkitab, sejarah gereja, dogmatika Kristen dan sebagainya  dalam kaitan dengan toleransi, sekularisme, pluralisme, demokrasi dan seterusnya. Sama fasihnya seperti ia berbicara tentang aspek-aspek agama yang dianutnya dalam kaitan dengan nilai-nilai tersebut. (more…)

Next Page »