Posted by yakomapgi under
Esai Leave a Comment
::. Oleh : Rainy MP Hutabarat
Bagaimana “sang lain” (baca juga: sang liyan) dikonstruksikan melalui bahasa? Untuk menjawab hal ini, baiklah diperjelas lebih dulu siapa yang dimaksudkan dengan “sang lain” itu. Dalam dunia iklan, yang dimaksud dengan “sang lain” tentu saja para pesaing sebuah produk. Dalam agama, “sang lain” adalah penganut iman yang berbeda. Dalam seksualitas, “sang lain” biasa dijuluki “lawan jenis” (kelamin). Sebagai catatan, istilah “lawan jenis” (kelamin) itu sudah merupakan pencitraan tertentu terhadap “sang lain”. Kenapa istilah “lawan” sering digunakan dan bukan “pasangan jenis” kelamin? Tampaknya ada asumsi tertentu untuk penggunaan istilah “lawan jenis” dan bukan “pasangan jenis” (kelamin). Pertama, “lawan jenis” secara jelas menunjuk kepada hubungan heteroseksual. Kedua “lawan jenis” juga mengasumsikan suatu pandangan esensialis tentang apa yang menjadi peran, posisi atau karakter dari jenis kelamin yang berbeda. Namanya juga “lawan”, maka segala sesuatu diasumsikan “berlawanan” alias “berbeda”.Sedangkan “pasangan jenis” cenderung mengasumsikan hubungan majemuk. Perempuan bisa dipasangkan dengan perempuan, dan laki-laki bisa dipasangkan dengan laki-laki. Atau sebaliknya, perempuan bisa dipasangkan dengan laki-laki, dan laki-laki bisa dipasangkan dengan perempuan. Jadi, istilah “pasangan jenis” bisa menunjuk kepada hubungan heteroseksual maupun homoseksual. Maaf, tulisan ini tidak bermaksud membahas persoalan heteroseksual dan homoseksual, apalagi dari perspektif moral. (more…)