March 2008


 ::. Rasid Rahman

Simbol dan Bentuk-bentuknya

Simbol berasal dari kata Yunani, sym (bersama) dan balloo (melempar). Symballoo adalah ritus yang dilakukan di antar dua orang saudara (atau dua pihak) dengan melempar salah satu belahan dari lempengan ke tanah. Biasanya, (more…)

Advertisements

::. Pdt. Rasid Rachman, M.Th.

Pendeta Rasid Rachman melayani di GKI (Gereja Kristen Indonesia) Perumnas di Tangerang. Beliau adalah dosen luar biasa di STT Jakarta untuk mata kuliah Liturgi dan anggota Komisi Liturgi Sinode GKI. Berikut ini wawancara melalui surat elektronik dengan beliau. (T): Menurut pengamatan Saudara, apa sajakah permasalahan penting dalam liturgi gereja-gereja kita, baik dari segi bentuk, teologi, bahasa, kontekstualisasi maupun proses penciptaan (J) Gereja-gereja di Indonesia umumnya belum melihat liturgi sebagai teologi; gereja-gereja Protestan di Indonesia masih melihat liturgi sebagai hal di luar teologi dan hanya merupakan salah satu kegiatan gereja.  Persepsi ini memang kekeliruan yang kita buat sendiri yang memberikan kegiatan liturgi kepada pemusik, seniman, dan arsitek. tanpa bimbingan teologis dari pihak gereja. Peran Pendeta paling-paling hanya “menjaga dogma”, dalam arti tidak membuat perubahan apa pun dalam liturgi kecuali telah diputuskan oleh Sinode. Sebagai teologi, liturgi saling berkaitan dengan Alkitab, sejarah dan tradisi gereja, budaya masyarakat, dan geliat teologi kontekstual. Jelas, Alkitab tidak menetapkan satu pun bentuk liturgi. Namun sejarah dan tradisi gereja mencipta bentuk-bentuk dan ritus-ritus. Budaya masyarakat memperkaya ritus dalam khazanah liturgi gereja secara ekumenis. Pada gilirannya, gereja “membaptis” budaya masyarakat. Itu yang terjadi dengan Natal yang semula adalah festival musim dingin dan Paska yang berasal dari festival musik semi. Hal ini sejajar dengan upaya teologi pembebasan di Amerika Latin dan teologi Minjung di Korea yang mengkristenkan konteks.

(more…)

::. Oleh : Rainy MP Hutabarat 

Bagaimana “sang lain” (baca juga: sang liyan) dikonstruksikan melalui bahasa?  Untuk  menjawab  hal ini, baiklah  diperjelas lebih  dulu  siapa  yang dimaksudkan  dengan “sang lain” itu.  Dalam dunia iklan, yang  dimaksud dengan “sang lain” tentu saja para pesaing sebuah produk. Dalam agama, “sang lain” adalah  penganut iman yang berbeda. Dalam  seksualitas, “sang lain” biasa  dijuluki  “lawan jenis” (kelamin). Sebagai catatan, istilah  “lawan jenis”  (kelamin) itu sudah merupakan pencitraan  tertentu terhadap  “sang lain”. Kenapa  istilah “lawan”  sering digunakan dan bukan “pasangan jenis” kelamin?  Tampaknya  ada asumsi  tertentu  untuk penggunaan istilah “lawan jenis” dan bukan “pasangan jenis” (kelamin). Pertama, “lawan jenis” secara jelas menunjuk kepada hubungan  heteroseksual.  Kedua “lawan jenis” juga mengasumsikan  suatu pandangan esensialis tentang apa yang menjadi peran,  posisi atau karakter dari jenis kelamin yang berbeda. Namanya juga “lawan”, maka segala sesuatu diasumsikan “berlawanan” alias “berbeda”.Sedangkan “pasangan jenis” cenderung mengasumsikan hubungan majemuk.  Perempuan bisa dipasangkan dengan perempuan, dan laki-laki bisa dipasangkan dengan laki-laki. Atau sebaliknya, perempuan bisa dipasangkan dengan laki-laki, dan laki-laki bisa dipasangkan dengan perempuan. Jadi, istilah “pasangan jenis” bisa menunjuk kepada hubungan heteroseksual maupun homoseksual. Maaf, tulisan ini tidak bermaksud  membahas  persoalan heteroseksual dan homoseksual, apalagi dari perspektif moral.   (more…)

 

::. Oleh: Mula Harahap

 

Kalau anda dan saya adalah pembaca Tempo yang setia, maka kita akan bisa merasakan bahwa majalah itu juga adalah bagian dari kita: Orang-orang yang memperjuangkan toleransi, sekularisme, pluralis medan demokrasi di Indonesia. Simaklah tulisan-tulisan Goenawan Mohammad dalam “Catatan Pinggir”. Ia sangat fasih berbicara tentang teks-teks Alkitab, sejarah gereja, dogmatika Kristen dan sebagainya  dalam kaitan dengan toleransi, sekularisme, pluralisme, demokrasi dan seterusnya. Sama fasihnya seperti ia berbicara tentang aspek-aspek agama yang dianutnya dalam kaitan dengan nilai-nilai tersebut. (more…)

 

::. Oleh: Rainy MP Hutabarat 

Sampai saat ini, kebanyakan orang beranggapan  bahwa tingginya penularan penyakit HIV/AIDS  tak  ada kaitannya dengan  masalah ketimpangan jender. Anggapan bahwa HIV/AIDS sebagai penyakit “kutukan Tuhan” hingga kini  juga masih diyakini banyak orang karena dihubungkan dengan “seks bebas”, “homoseksual” dan  narkoba. Padahal, berkaitan dengan hubungan seksual, tak ada kaitan penularan HIV/AIDS dengan sifat hubungan seks. Berbagai data mencatat, bahwa penularan HIV/AIDS juga banyak terjadi pada pasangan suami-isteri dan hubungan heteroseksual.   
(more…)

::. Media  Development

Kadang-kadang, ketika dikejutkan oleh sebuah  gambar, orang-orang berkomentar bahwa “Sebuah kartun lebih banyak berbicara ketimbang sebuah khotbah yang bertabur ribuan kata.” Selama  hampir 30 tahun menjadi seorang kartunis profesional, saya selalu mencoba mewujudkan gagasan tersebut: Berkata-kata banyak melalui beberapa garis dan coretan  sederhana,  pada sebuah ruang yang kecil. (more…)

::. Media Development

Bahwa beberapa bahasa secara intrinsik lebih unggul dibandingkan dengan yang lain, secara luas diyakini  banyak orang. Namun, keyakinan ini  tak memiliki fakta linguistik. Pada periode sejarah tertentu, beberapa bahasa, memang, lebih bermanfaat atau prestisius  dibandingkan dengan yang lain. Namun ini lebih merupakan dampak dari  “orang-orang kuat”  dan  berpengaruh pada masanya yang menggunakannya, dan bukan karena ciri-ciri linguistik apa pun yang terdapat dalam bahasa tersebut.  (more…)