::. Marshall Rosenberg

Kita hidup dalam struktur yang menuntut untuk mendidik masyarakat agar percaya bahwa otoritas tahu persis apa yang baik untuk kita lakukan, dan tugas kita adalah melakukan apa yang telah dikatakan oleh otoritas. Jika kita melakukan apa yang dikatakan oleh otoritas, kita dianggap layak mendapat hadiah. Jika kita tidak melakukannya, kita dianggap pantas untuk dihukum. Ini cara yang berbahaya untuk mendidik orang. Banyak orang mengaku sebagai otoritas, tahu apa yang baik, punya kekuasaan yang besar, dan bisa mendidik rakyat untuk melakukan hal-hal yang menurut saya mirip kekerasan, yang memandang orang sebagai musuh. Kita telah dilatih untuk berpikir bahwa kita harus menghukum mereka, karena kekuasaan mengatakan bahwa orang-orang ini adalah orang-orang yang jahat. Cara berpikir seperti itu, bagi saya, sangat berbahaya. Saya ingin memperlihatkan cara berpikir dan berkomunikasi yang berbeda, yang menurut saya lebih alamiah dan kondusif bagi setiap orang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka secara damai.

Komunikasi tanpa kekerasan adalah komunikasi yang memperkuat kemampuan kita untuk meraih inspirasi bela rasa dari orang lain dan merespons secara bela rasa kepada orang lain dan kepada diri kita sendiri. Komunikasi tanpa kekerasan membimbing kita untuk menyusun kembali kerangka tentang bagaimana kita mengungkapkan diri kita dan mendengarkan orang lain dengan mengarahkan kesadaran kita terhadap apa yang sedang kita cermati, rasakan, butuhkan dan mintakan.

Kita telah dilatih untuk melakukan pengamatan-pengamatan cermat yang terlepas dari evaluasi, serta mengenali perilaku-perilaku dan kondisi-kondisi yang mempengaruhi kita. Kita belajar untuk mendengarkan kebutuhan-kebutuhan kita dan kebutuhan-kebutuhan orang lain yang lebih mendasar, serta mengidentifikasi dan mengartikulasikan secara jelas apa yang kita inginkan dalam suatu situasi. Bila kita pusatkan perhatian untuk menjelaskan apa yang sedang kita amati, rasakan, dan butuhkan lebih daripada diagnosa dan penilaian, maka kita menemukan kedalaman rasa bela rasa kita. Dengan penekanan kepada mendengar secara mendalam – terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain – komunikasi tanpa kekerasan memupuk penghormatan, perhatian dan empati, serta memunculkan keinginan bersama (mutual desire) untuk memberi dari hati.

Komunikasi tanpa kekerasan tidak mengandung hal-hal yang baru; semua yang terkandung dalam komunikasi tanpa kekerasan telah kita ketahui selama berabad-abad. Tujuannya adalah mengingatkan kita tentang apa yang telah kita ketahui – tentang bagaimana manusia diharapkan saling berinteraksi secara ideal antara satu sama lain – dan membantu kita untuk hidup yang menampakkan bagaimana mewujudkan interaksi ideal ini.

Penggunaan komunikasi tanpa kekerasan tidak mengharuskan orang-orang yang berkomunikasi dengan kita mengetahui apakah komunikasi tanpa kekerasan itu, atau terdorong untuk berhubungan dengan kita secara bela rasa. Jika memegang teguh prinsip tanpa kekerasan dan semata-mata ingin hanya ingin memberi dan menerima dengan bela rasa, serta melakukan apa pun yang dapat dilakukan untuk membiarkan orang lain tahu bahwa inilah satu-satunya motif kita, maka orang lain akan bergabung dengan kita dalam proses dan akhirnya kita akan mampu saling merespons dengan belas kasih. Namun ini tidak terjadi secara instan; pengalaman kita memperlihatkan bahwa belas kasih muncul tak terhindari ketika kita berdiri teguh dalam prinsip-prinsip dan proses komunikasi tanpa kekarasan.

Menurut ekonom dari Chile, Manfred Max-Neef, kita hanya memiliki 9 kebutuhan. Bagi Max-Neef, kebutuhan-kebutuhan manusia penting karena sistem ekonominya didasarkan pada kebutuhan-kebutuhan manusia. Bagaimana kita mengukur kebutuhan-kebutuhan tersebut sehingga sehingga kita sungguh-sungguh mengukur ekonomi kita, keberhasilan-keberhasilannya, dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia – dan bukan mengukur dengan ukuran-ukuran tragis yang kita pakai.

Menurut Max-Neef, kebutuhan yang pertama adalah “keberlanjutan”, yakni makanan, rumah, dan air – kebutuhan-kebutuhan fisik mendasar. Berikutnya, “keamanan” seperti perlindungan. Lalu “cinta-kasih”. Kemudian “pengertian”. Selanjutnya “komunitas”. Lalu “rekreasi” seperti bermain dan istirahat; ia menyatukan seluruhnya sebagai satu kebutuhan. Dan, kebutuhan terpenting dari seluruhnya adalah “otonomi”. Simaklah surat kabar mana saja dan pada hari apa saja dan lihatlah betapa banyak perang berkecamuk akibat kebutuhan tersebut. Manusia mempunyai kebutuhan yang kuat untuk bertanggung jawab atas hidup mereka sendiri, dan tidak menghendaki orang lain mengklaim tentang apa yang harus mereka lakukan. Siapa pun yang mengklaim seperti itu, berarti mengancam otonominya. Tengoklah perang-perang yang berkecamuk di antara bangsa-bangsa. Dengarlah keluarga-keluarga dengan anak-anak mereka. Maka Anda akan mendengar perang-perang otonomi. “Waktunya merapikan tempat tidur!” “Tak mau!” “Kau dengar aku tidak?” “Tidak!” Anda dengar? Perang otonomi.

Kebutuhan lainnya adalah “kreativitas”. Kemudian, menurut Victor Frankl, kebutuhan terpenting di atas segalanya, barangkali, adalah kebutuhan akan “makna”, yakni tujuan hdiup. Menyedihkan, hanya sedikit orang yang dapat memenuhi kebutuhan ini. Mereka dididik untuk keliru mewujudkan kebutuhan-kebutuhan, kata Michael Lerner. Kita telah dididik untuk keliru mewujudkan kebutuhan-kebutuhan kita. Kita dididik untuk berpikir bahwa kita memiliki kebutuhan akan konsumsi, kebutuhan akan uang, kebutuhan akan status – dan bukan untuk melihat bahwa hal-hal ini bukanlah kebutuhan.

(dari berbagai sumber)

Advertisements