Oleh P. Hasudungan Sirait

Irama kerja media harian (koran atau suratkabar) tak sama dengan terbitan bukan harian (mingguan, bulanan, kwartalan, atau semesteran). Yang terakhir—biasanya dalam format majalah, tabloid, atau buletin—periode terbitnya berhari-hari bahkan bisa bulanan sehingga mekanisme kerja di lingkungan redaksinya memiliki ritme sendiri.

Harian senantiasa menekankan aktualitas (kebaruan)  berita. Berita yang sudah lewat sehari bagi mereka sudah basi kecuali sifatnya susulan (follow-up news).  Halnya lain bagi terbitan bukan harian.

Majalah, tabloid, atau buletin—merupakan format umum media [cetak] komunitas—tak bisa menggarisbawahi aktualitas sebab mereka terbitnya paling lekas sepekan sekali biasanya. Sajian mereka lazimnya adalah materi yang telah hampir sepanjang minggu sebelumnya diturunkan harian. Jadi  bukan baru, untuk tak mengatakan sudah basi.  Sajiannya baru hanya kalau  mereka keluar dari trend berita dan mengembangkan isu sendiri; sesuatu yang jarang dilakukan di negeri kita ini.

Pembaca, di belahan jagat mana pun, tentu saja tak suka bacaan basi. Kalau demikian apa yang harus dilakukan orang mingguan supaya tetap bisa memerangkap mata pembacanya? Tak ada pilihan lagi selain pendalaman dan pengayaan (pemerkayaan) informasi. Jadi menyajikan berita yang mendalam (indepth) dan  lengkap (komprehensif) menjadi keharusan. Kalau sekadar menggunakan sudut pandang (angle) yang berbeda tak cukup. Satu lagi:  menghindari pewartaan bergaya langsung (straight news); sebagai gantinya memakai pendekatan bercerita (story telling). Maka tulisannya berupa berita kisah (feature). Kalau masih berbentuk straight news (berpola pyramida terbalik dengan prinsip  makin ke bawah nilai beritanya kian berkurang)  pasti tak akan pas karena fakta keras yang akan ditonjolkan itu sudah bertebaran di koran dan media yang tenggat pewartaannya lebih pendek lagi (televisi-radio-portal/situs  berita).

Berita yang dalam dan lengkap: bagaimana kita dapat menyajikannya? Bisakah hanya menunggu perkembangan arus berita atau trend berita seperti yang umumnya dilakukan orang harian di Republik ini?

Sedikit catatan tentang cara kerja orang harian. Mengikuti perkembangan isu di lapangan itulah yang lazim dilakukan orang harian. Apa perkembangan terbaru hari ini itulah yang akan mereka sajikan untuk edisi besok. Yang mengetahui perkembangan di lapangan tentu adalah wartawan peliput; sebab itu merekalah tumpuan media harian. Redaktur di kantor biasanya tinggal menyunting laporan mereka saja.

Orang majalah, tabloid, atau buletin  seperti kita dari terbitan komunitas ini tidak pada tempatnya kalau menggunakan cara kerja orang harian. Kalau caranya sama sajiannya kemungkinan besar akan basi: hanya mengulang berita yang sudah dimuat koran atau telah diwartakan TV, radio, dan   situs berita. Seperti di dunia sepakbola, orang mingguan sebaiknya tidak menunggu melainkan harus menjemput bola. Pendalaman dan pelengkapan berita, itulah yang harus dilakukan. Untuk itu perencanaan liputan menjadi mutlak.

Liputan terencana

Idealnya semua sajian berita mingguan merupakan buah dari perencaaan. Jadi tak ada artikel berita yang nongol begitu saja tanpa pengujian di rapat redaksi. Perlu demikian adanya untuk menghindari kebasian, kedangkalan, dan kemiskinan informasi.  Agar bisa dipertanggungjawabkan redaksi dan adminstrasinya tertib, itu alasan lain.

Lantas, bagaimana sebaiknya merencanakan liputan?

Katakanlah kita, orang mingguan dari terbitan komunitas,  tidak sedang mengembangkan isu sendiri melainkan memfollow-up sebuah berita yang sedang ramai diberitakan pers. Agar sajian nanti lebih dalam dan lengkap serta bukan pengulangan sebaiknya kita memulai dengan mengikuti pemberitaan isu tersebut oleh media massa sejauh ini. Membacai kliping koran, majalah, dan tabloid (juga memantau berita TV dan radio) merupakan  cara praktis untuk itu. Kalau perpustakaan kantor kita tak bisa menyiapkan kliping kita bisa mengandalkan internet. Bukalah situs berita atau manfaatkan mesin pencari macam Google. Niscaya berlimpah bahan di sana. Setelah membacai bahan kita akan segera tahu peta masalah dan bisa melihat bolong-bolong dalam pemberitaaan sejauh ini. Bolong-bolong ini misalnya berkaitan dengan narasumber (ada yang kurang kompeten, komposisi kurang berimbang, informasi dari mereka kurang digali), fakta lapangan (kurang atau tak relevan, tak ada dokumen otentik), penggambaran realitas di lapangan, atau gaya ungkap.

Langkah berikutnya: petakan sendiri masalah itu (mapping) sedemikian rupa sehingga menjadi lebih detil serta jelas tali-temalinya. Dalam bahasa orang media, uraikan unsur beritanya (5W+1H-nya) dan perjelas hubungan antara unsur berita tersebut.  Yang dimaksud dengan 5W+1H adalah what (apa peristiwa atau pokok masalahnya), who (siapa saja yang tersangkut dalam peristiwa atau masalah itu), when (kapan  kejadiannya),  where (dimana kejadiannya atau peristiwanya), why (mengapa peristiwa atau masalah terjadi), dan how (bagaimana proses kejadian atau bagaimana masalah itu bermula dan kemudian membesar seperti sekarang).

Kalau perlu, bertolak dari hasil pemetaaan buatlah semacam hipothesis untuk dibuktikan di lapangan nanti. Jadi kita tak sekadar meronstruksi peristiwa tapi juga menganalisa dan membuktikan hipothesis.

Jika sudah siapkanlah rancangan liputan bertolak dari pemetaan masalah tadi.  Wujudnya nanti adalah kerangka (outline) penugasan yang sering juga disebut term of reference (TOR). Setiap media mempunyai model outline atau TOR sendiri. Terlepas dari perbedaan model, isinya biasanya mencakup: judul, latar masalah (sebaiknya disertai argumen apa pentingnya masalah itu kita wartakan), sudut pandang (angle),  pembagian tulisan, narasumber, daftar pertanyaan untuk setiap narasumber, data riset, objek observasi, rancangan foto, dan deadline.

Redaktur-lah (terkadang bisa juga Redaktur Pelaksana  bahkan Pemimpin Redaksi) yang merancang outline. Yang mengeksekusinya  para reporter lapangan. Inilah bedanya dengan redaktur harian. Kalau redaktur harian praktis lebih mengandalkan hasil liputan reporternya, redaktur mingguan sebaliknya: merekalah otak atau master mind di jajaran redaksi.  Merupakan koki yang akan menentukan lezat tidaknya sajian nanti, mereka.

Reporter mingguan selalu berbekal outline penugasan atau TOR yang dirancang redakturnya. Itulah bedanya dengan reporter harian. Yang terakhir ini jamaknya tak dibekali TOR sehingga dengan sendirinya harus selalu berinisiatif mencari dan mengembangkan isu. Aktualitas menjadi prioritas mereka.  Tapi akhir-akhir ini cara kerja wartawan harian juga mulai berubah. Mereka tak bisa lagi mengandalkan sekadar aktualitas melainkan perlu mengekplorasi ruang kedalaman dan kelengkapan berita. Pasalnya, media mereka bukan lagi pewarta tercepat. Dari segi waktu pemberitaan mereka kini telah kalah jauh dibanding radio-TV-portal  berita (terutama Elshinta, MetroTV dan detik.com) yang bisa melaporkan langsung (live report). Bahkan dibanding TV umum pun yang sekarang bisa memunculkan running text

setiap saat.  Maka mengerjakan penugasan terencana pun sudah mulai mereka lakukan. Kian mendekati cara kerja orang mingguan, jadinya.

Advertisements