Oleh P. Hasudungan Sirait

Sajian berita di media massa kita selama ini boleh kita katakan cenderung cuap-cuap (talking news) dan mengulang-ulang. Masalahnya peliput umumnya kurang kreatif sehingga hanya pasif menunggu perkembangan di lapangan (current issue) serta menggunakan pendekatan yang sudah klasik, untuk tak mengatakan basi, saja. Maka yang muncul hanya berita berisi omongan para narasumber termasuk pengamat. Tak banyak media yang rajin mengeksplorasi isu  sembari menukik-menyeruak ke kedalaman dan  kelengkapan informasi.

Agar tak terjebak dalam talking news dan hanya berpusing dalam pusaran current  issue ada strategi yang bisa diterapkan oleh peliput. Yaitu merencanakan liputan, seperti yang lazim dilakukan media massa bukan harian (majalah atau tabloid) yang tak mengandalkan berita keras (straight news atau hard news). Untuk harian, radio dan TV pun berita terencana ini bisa menjadi sajian khusus mendampingi berita-berita terkini atau dapat menjadi sajian utama kalau berita terkini tak ada yang kuat. Artinya peliput di lapangan sedang merasakan mati angin.

Berita terencana bisa diusulkan awak redaksi yang mana saja saat rapat redaksi. Kalau rapat redaksi menganggapnya menarik maka akan ditimbang. Dasar pertimbangannya adalah apakah belum pernah diangkat media lain dan kalaupun sudah pernah apakah ada sisi lain yang belum dimasuki. Artinya sudut berita (angle) lain. Jika ternyata tidak ada maka dijajaki apakah liputan nanti bisa dibuat lebih dalam (indepth) dan lengkap (komprehensif). Kalau ternyata tidak bisa ya tak perlu diangkat lagi. Angle lain dan/atau kedalaman dan kelengkapan yang lebih merupakan ciri khas berita terencana.

Jika usulan berita terencana telah lolos di rapat redaksi maka urusan berikutnya adalah membuat panduan umum peliputan alias lembar penugasan, outline atau term of reference (TOR). Perlunya? Agar pengerjaan liputan nanti sesuai dengan perencanaan. Jelas tahapan dan proses pengerjaannya serta fokus. Siapa pun yang terlibat dalam peliputan nanti ia akan cepat mengerti apa yang akan dikerjakan kendati ia tidak mengikuti rapat redaksi kala usulan liputan diproses. Satu hal lagi, TOR ini menjadi semacam catatan pertanggungjawaban atau akuntabilitas dan bukti transparansi bagi seluruh awak tim liputan. Artinya setiap orang yang terlibat dalam liputan terencana ini—peliput di lapangan, penulis dan redaktur penyunting—bisa menilai kinerjanya dengan merujuk TOR.

TOR yang baik adalah yang jelas dan rinci. Semakin baik TOR niscaya akan kian mudah pengerjaan liputan. Karena itu ada yang mengatakan separo pekerjaan telah selesai kalau TOR-nya bagus. Memang ada benarnya. Sekali lagi perlu diingat bahwa TOR adalah panduan umum. Sebagai panduan umum ia tentu bertolak dari sejumlah pengandaian. Jadi sifatnya hipotetik. Yang namanya pengandaian harus diuji di lapangan. Ia bisa benar bisa salah. Kalau ternyata pengandaiannya keliru maka TOR-nya yang harus diubah. Tidak ada pilihan lain. Sangat keliru kalau hasil liputan dikondisikan sedemian rupa agar seturut TOR.

Tapi apa sebenarnya isi TOR? Bisa macam-macam, tergantung gaya pembuatnya. Tapi sebagai paduan umum ada berapa hal yang perlu tercakup di dalamnya yakni  topik, latar masalah, sudut berita (angle), pembagian tulisan/cerita/story, narasumber untuk setiap tulisan/cerita, daftar pertanyaan untuk setiap narasumber,  rancangan foto/sound/gambar dan infografis (khusus untuk media cetak dan TV),  riset data yang perlu agar reportase nanti bernas, observasi lapangan yang diperlukan dan tenggat waktu (deadline). Berikut penjelasan singkatnya.

Topik

Merupakan tema besar liputan. Ditempatkan sebagai judul TOR. Seperti judul berita straight news, sebaiknya singkat, padat dan mencerminkan inti (hakekat) masalah.

Latar masalah

Paparan inti masalah. Apa saja tali-temali persoalannya dan bagaimana mereka saling berpilin.  Sebaiknya tak usah berpanjang-panjang. Dengan membaca latar masalah ini diharapkan siapa pun yang terlibat dalam pengerjaan liputan—termasuk mereka yang tak mengikuti rapat perencanaan redaksi—akan cepat mengerti  hakekat masalah.

Sudut berita (angle)

Masalah pasti banyak sementara peruntukan berita (kapling, durasi atau masa tayang) terbatas. Karena itu sajian perlu dibatasi. Juga agar pengerjaannya bisa fokus.  Dari sekian banyak masalah yang berpilin-pilin kita pilih satu sudut. Dasar pemilihan bisa urgensi, keeksklusifan, konteks zaman atau prioritas sajian media kita. Kita bisa memilih angle yang lebar, misalnya dimensi ekonomi atau lingkungan dari sebuah masalah. Kalau tidak, dimensi sosial-budaya atau dimensi politiknya.

Pembagian tulisan/cerita/story

Berita terancana biasanya   dikerjakan secara khusus. Artinya ada pengalokasian sumber daya dan waktu secara ekstra. Berbeda dengan straight news atau berita permukaan lain. Karena itu sajiannya biasanya panjang.   Contoh yang mudah kita bayangkan adalah Laporan Utama atau Laposan Khusus majalah. Laporan Utama (Laput) atau Liputan Utama (Liput) biasa sampai 12 halaman berikut foto dan infografis. Jadi terdiri dari sejumlah item tulisan/cerita/story yang saling terkait. Tulisan/cerita/story utama berupa rangkuman masalah. Sedangkan bagian lainnya berupa penjabaran (break-down) dari yang utama. Setiap tulisan/cerita/story pendukung ini harus fokus supaya tidak tumpang-tidih dengan yang lain.

Narasumber

Setiap tulisan/cerita/story membutuhkan narasumber sendiri. Tapi sangat mungkin seorang menjadi narasumber di beberapa tulisan/cerita sekaligus. Tak masalah kalau itu terjadi. Dasar pemilihan narasumber adalah kompetensi. Semakin terkait seseorang dalam masalah, kian tepat ia dijadikan narasumber. Dengan demikian pelaku-korban adalah prioritas utama. Saksi mata   prioritas kedua. Adapun pengamat  sebaiknya dipakai kalau dibutuhkan untuk menjelaskan hal-hal yang terlalu teknis saja.

Daftar pertanyaan

Sesuai dengan kompetensi, kepada setiap narasumber kita perlu bertanya. Tujuan bertanya ada macam-macam. Yang paling umum adalah untuk menggali  informasi sebanyak mungkin. Bisa juga untuk menguji informasi yang telah kita dapatkan. Yang paling minimal adalah mendapatkan kutipan langsung. Dalam TOR, semakin baik pertanyaan akan kian baik sebab lebih fokus. Pewawancara cukup mengajukan pertanyaan  yang relevan saja. Tapi ada catatan. Dalam wawancara terbuka kemungkinan terungkap hal baru yang menarik. Sesuatu yang tak terbayangkan oleh sang pembuat TOR. Karena itu pewawancara sebaiknya senantiasa diminta mengembangkan pertanyaan. Yang didaftar panduan umum saja.

Observasi lapangan

Reportase yang baik adalah yang hidup. Ada penggambaran agar khalayak selekas mungkin bisa menangkap suasana. Media yang menggunakan audio-visual, yaitu TV, seketika bisa melukiskan suasana. Tayangan mereka gambar hidup lengkap dengan suara. Yang menggunakan audio, yaitu radio, perlu waktu yang lebih lama. Suaranya harus pas betul agar konteksnya bisa ditangkap pendengar. Yang butuh waktu paling lama dalam deskripsi suasana adalah media cetak. Observasi untuk keperluan penggambaran diperlukan oleh semua jenis media. TV dan radio tak terkecuali. Untuk mendapatkan deskripsi, gambar dan suara yang baik tentu perlu observasi.

Rancangan foto/suara/gambar

Foto perlu untuk media cetak. Suara untuk radio dan TV; sedangkan gambar untuk TV. Dalam konteks jurnalistik, foto, suara dan gambar adalah informasi. Sejak awal foto, sound (atmosfir, insert, dsb.) atau gambar perlu direncanakan. Tujuannya agar sinkron dangan tulisan atau narasi. Foto, suara atau gambar sebaiknya yang hidup; bukan yang bergaya salon. Rekayasa harus dihindari. Rekayasa untuk keperluan ilustrasi boleh tapi harus disebut dengan jelas.

Rancangan infografis (untuk media cetak danTV)

Infografis adalah data-data olahan yang disajikan dengan pendekatan grafis. Data bisa berupa angka-angka statistik serta lokasi dan urut-urutan kejadian. Sebuah kejadian, misalnya tabrakan beruntun di jalan raya,  bisa kita ceritakan dengan kata-kata. Kemungkinan sajian seperti ini akan panjang dan belum tentu akan mudah dipahami khalayak. Dengan infografis kejadian serupa bisa kita paparkan secara gamblang. Sejak awal sajian infografis, kalau memang ada, perlu kita rencanakan agar periset data dan bagian grafis bisa menyiapkannya lebih awal.

Riset data

Tulisan akan kering dan kurang meyakinkan  kalau datanya minim. Karena itu data pendukung tulisan harus disiapkan sejak awal. Bentuknya bisa kliping koran dan majalah, buku atau terbitan khusus. Bahan ini bisa kita pesan ke bagian data di perpustakaan. Kalau tidak, kita cari sendiri. Sebaiknya reporter yang akan mewawancarai narasumber perlu juga kita ingatkan untuk mencari data terkait, kalau ada dokumen akan sangat baik, milik narasumber yang bisa dipinjam atau digandakan.

Tenggat waktu (deadline).

Pengerjaan liputan tentu ada batas waktunya. Hal ini harus disebut jelas dalam TOR supaya semua yang terlibat dalam pengerjaan mengetahuinya. Ada baiknya pukulnya disebut, di samping harinya. Yang namanya deadline harus dipatuhi. Kalau tidak jadwal pekerjaan berikutnya bisa terganggu atau bahkan berantakan.

Advertisements