Wawancara


::. Augusto Boal

Sutradara teater asal Brasil, Augusto Boal, mengembangkan Teater Orang Tertindas (TOT) pada tahun 1950-an dan 1960-an. Dalam upaya mentransformasikan teater tradisional yang monolog menjadi teater yang partisipatif, yang berdialog antara panggung dengan penonton, Boal bereksperimen dengan berbagai bentuk teater interaktif. (more…)

::. Pdt. Rasid Rachman, M.Th.

Pendeta Rasid Rachman melayani di GKI (Gereja Kristen Indonesia) Perumnas di Tangerang. Beliau adalah dosen luar biasa di STT Jakarta untuk mata kuliah Liturgi dan anggota Komisi Liturgi Sinode GKI. Berikut ini wawancara melalui surat elektronik dengan beliau. (T): Menurut pengamatan Saudara, apa sajakah permasalahan penting dalam liturgi gereja-gereja kita, baik dari segi bentuk, teologi, bahasa, kontekstualisasi maupun proses penciptaan (J) Gereja-gereja di Indonesia umumnya belum melihat liturgi sebagai teologi; gereja-gereja Protestan di Indonesia masih melihat liturgi sebagai hal di luar teologi dan hanya merupakan salah satu kegiatan gereja.  Persepsi ini memang kekeliruan yang kita buat sendiri yang memberikan kegiatan liturgi kepada pemusik, seniman, dan arsitek. tanpa bimbingan teologis dari pihak gereja. Peran Pendeta paling-paling hanya “menjaga dogma”, dalam arti tidak membuat perubahan apa pun dalam liturgi kecuali telah diputuskan oleh Sinode. Sebagai teologi, liturgi saling berkaitan dengan Alkitab, sejarah dan tradisi gereja, budaya masyarakat, dan geliat teologi kontekstual. Jelas, Alkitab tidak menetapkan satu pun bentuk liturgi. Namun sejarah dan tradisi gereja mencipta bentuk-bentuk dan ritus-ritus. Budaya masyarakat memperkaya ritus dalam khazanah liturgi gereja secara ekumenis. Pada gilirannya, gereja “membaptis” budaya masyarakat. Itu yang terjadi dengan Natal yang semula adalah festival musim dingin dan Paska yang berasal dari festival musik semi. Hal ini sejajar dengan upaya teologi pembebasan di Amerika Latin dan teologi Minjung di Korea yang mengkristenkan konteks.

(more…)