Sejak berdiri pada Mei 1950, Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI), sekarang Persekutuan Gereja-gereja di  Indonesia  (PGI) telah merumuskan tugas gereja di bidang  komunikasi, yaitu menyelenggarakan segala  sesuatu yang berhubungan dengan pelayanan  dan kesaksian KABAR  BAIK melalui berbagai media komunikasi.  Tugas itu pertama kali dilakukan oleh KORAVI-DGI (Komisi Radio dan Audiovisual – Dewan Gereja-gereja di Indonesia) yang kemudian menjadi Komisi Komunikasi Massa – Dewan Gereja-gereja di Indonesia (KOKOMA-PGI). Ini berlangsung pada tahun 60-an.  

 

Pada 1971, KOKOMA-DGI ditingkatkan menjadi Jajasan Komunikasi Massa – Dewan Gereja-gereja di Indonesia (JAKOMA-DGI), kemudian berubah menjadi Yayasan Komunikasi Masyarakat – Persekutuan Gereja-gereja  di  Indonesia (YAKOMA-PGI).

 

Hingga 1987, YAKOMA-PGI masih menggunakan istilah “massa”. Karena pelayanan YAKOMA-PGI semakin meluas, serta penekanan pada visi dan misi pelayanan yang hendak “memampukan gereja-gereja dan masyarakat menjadi pelaku komunikasi, bagi terwujudnya “keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan.”

 

Dengan berlakunya UU No. 16 Tahun 2001 yang kemudian direvisi menjadi Undang-undang 28 Tahun 2004 tentang Yayasan, PGI melikuidasi YAKOMA-PGI dan kemudian dibentuk Komisi Pelayanan Komunikasi Masyarakat PGI (SK MPH-PGI No. 041 l/PGI/XII/02) dan selanjutnya diubah menjadi Badan Pelayanan Komunikasi Masyarakat-Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (SK MPH-PGI no. 085/PGI-XIV/SKEP/2005).

 

YAKOMA-PGI adalah corporate member WACC (World Association for Christian Communication), ikut mendirikan Jaringan Kerja Pelayanan Kristen (1989). Jaringan ini merupakan wadah gumul dan aksi bersama dalam merespons masalah-masalah komunikasi, HAM, demokrasi, keadilan, masyarakat sipil , keutuhan ciptaan dan dan pemberdayaan.

 

 

 

 

 

 

Advertisements