Oleh P. Hasudungan Sirait

Media Komunitas (MK) sebaiknya lebih banyak mewartakan perkembangan dari hari ke hari di tengah komunitas yang menjadi khalayaknya. Sebab ‘kabar dari tengah kita’ itulah yang paling ditunggu khalayak tadi.  Jadi prioritas MK  adalah berita. Adapun yang bukan news—seperti refleksi, opini, kisah fiksi, humor, asah otak—lebih pas menjadi komplementer saja, bukan sajian utama.

Reportase atau liputan lapangan dengan demikian menjadi imperatif atau keharusan. Pekerjaan ini—sebutan lainnya news gathering—sebaiknya dilakukan tidak hanya lewat wawancara seperti kebiasaan umum wartawan di negeri kita ini tapi juga dengan  observasi dan riset data. Semacam mata trisula hubungan ketiga elemen ini. (more…)

Oleh P. Hasudungan Sirait

Irama kerja media harian (koran atau suratkabar) tak sama dengan terbitan bukan harian (mingguan, bulanan, kwartalan, atau semesteran). Yang terakhir—biasanya dalam format majalah, tabloid, atau buletin—periode terbitnya berhari-hari bahkan bisa bulanan sehingga mekanisme kerja di lingkungan redaksinya memiliki ritme sendiri.

Harian senantiasa menekankan aktualitas (kebaruan)  berita. Berita yang sudah lewat sehari bagi mereka sudah basi kecuali sifatnya susulan (follow-up news).  Halnya lain bagi terbitan bukan harian. (more…)

Oleh P. Hasudungan Sirait

Sajian berita di media massa kita selama ini boleh kita katakan cenderung cuap-cuap (talking news) dan mengulang-ulang. Masalahnya peliput umumnya kurang kreatif sehingga hanya pasif menunggu perkembangan di lapangan (current issue) serta menggunakan pendekatan yang sudah klasik, untuk tak mengatakan basi, saja. Maka yang muncul hanya berita berisi omongan para narasumber termasuk pengamat. Tak banyak media yang rajin mengeksplorasi isu  sembari menukik-menyeruak ke kedalaman dan  kelengkapan informasi. (more…)

Oleh P. Hasudungan Sirait

Tentukan

1. Visi dan Misi

Visi adalah situasi atau keadaan ideal yang kita inginkan

Misi adalah cara kita mewujudkan keadaan ideal itu

Contoh :

Visi: Rakyat Aceh yang cerdas, kreatif dan demokratis

Misi: Membuat sebuah terbitan yang sajiannya cerdas, kreatif  dan mengusung nilai-nilai

demokrasi. Pembaca utama terbitan ini adalah masyarakat  Aceh.

2. Tipologi media (koran/majalah/tabloid)

3. Periode terbit (harian/mingguan/ dwi-mingguan, bulanan, dll)

4. Khalayak pembaca (more…)

earths-biggest-selection-450px_v251249388_

 

::. Oleh: Mula Harahap


Hari-hari ini bila kita membuka situs Amazon (amazon.com) maka kita akan melihat iklan penawaran atas sebuah peralatan baru yang diberi nama “Kindle”. Peralatan ini adalah sebuah “e-reader” atau “electronic book” yang dibuat oleh Amazon. Prinsip kerjanya mungkin tidak jauh berbeda dengan “e-reader” yang pernah diciptakan sebelumnya, misalnya dengan “Sony Reader”. Dia merupakan sebuah alat yang memiliki lebar, panjang dan ketebalan yang hampir sama dengan buku, dan (more…)

::. Marshall Rosenberg

Kita hidup dalam struktur yang menuntut untuk mendidik masyarakat agar percaya bahwa otoritas tahu persis apa yang baik untuk kita lakukan, dan tugas kita adalah melakukan apa yang telah dikatakan oleh otoritas. Jika kita melakukan apa yang dikatakan oleh otoritas, kita dianggap layak mendapat hadiah. (more…)

::. Augusto Boal

Sutradara teater asal Brasil, Augusto Boal, mengembangkan Teater Orang Tertindas (TOT) pada tahun 1950-an dan 1960-an. Dalam upaya mentransformasikan teater tradisional yang monolog menjadi teater yang partisipatif, yang berdialog antara panggung dengan penonton, Boal bereksperimen dengan berbagai bentuk teater interaktif. (more…)